Contoh Karya Ilmiah Sederhana
BUDAYA
MENYONTEK DIKALANGAN SISWA/I SMP NEGERI 1 BAGAN SINEMBAH TAHUN 2017/2018
Disusun
oleh:
Fajrun
Marjana
SMP
NEGERI 1 BAGAN SINEMBAH
KABUPATEN
ROKAN HILIR
T.A
2017/2018
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. berkat kuasa dan
karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Budaya Menyontek Dikalangan Siswa/i SMP
Negeri 1 Bagan Sinembah”.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bu
Asmaini selaku guru pembimbing yang telah memberikan arahan dan masukan.
2. Orang
tua dan teman-teman saya yang telah membantu saya dalam menyelesaikan karya
tulis ini baik secara moril maupun materi.
Harapan saya dalam melaksanakan karya ilmiah ini
agar dapat menjadi media bertukar fikiran dan sumber ilmu. Saya mengakui bahwa “Tak Ada Gading Yang Tak Retak” dan saya
menyadari hasil karya tulis ini tidaklah sempurna.
Semoga karya tulis yang saya susun ini bermanfaat.
Amin.
Bagan
Batu, Maret 2018
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar......................................................................................i
Daftar Isi...............................................................................................ii
Bab
1: Pendahuluan..............................................................................1
1.1 Latar belakang
masalah.........................................................1
1.2 Rumusan masalah..................................................................3
1.3 Tujuan penelitian...................................................................3
1.4 Metode
Penelitian..................................................................3
Bab
2: Pembahasan...............................................................................4
2.1 Pengertian menyontek...........................................................4
2.2
Faktor-faktor yang menyebabkan siswa menyontek............4
2.3 Dampak
negatif kebiasaan menyontek bagi siswa...............5
2.4 Cara
mencegah kebiasaan menyontek bagi siswa................6
Bab
3: Penelitian..................................................................................8
3.1 Tempat dan
waktu.................................................................8
3.2 Populasi dan
sampel..............................................................8
3.3 Perbandingan
siswa yang menyontek dengan yang tidak menyontek di kelas
IX-9.............................................................8
Bab
4:
Penutup.....................................................................................9
4.1 Kesimpulan...........................................................................9
4.2
Saran.....................................................................................9
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................10
BAB
1 : PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah
pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang
diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran,
pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah
bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin
yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e,
berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap
pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau
tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap
seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan
tinggi, universitas atau magang.
Menurut
Horton dan Hunt, lembaga pendidikan
berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut:
-Mempersiapkan
anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
-Mengembangkan
bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
-Melestarikan
kebudayaan.
-Menanamkan
keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.
Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif
dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan
pemahaman. Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar
merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian
menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan
oleh lainnya. Sedangkan Pengertian
Belajar menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar
merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku,
yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan
sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya
suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat
refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha
yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya
dengan lingkungan.
Kurikulum
adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh
suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang
akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan
kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut
serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya
disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan.
Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan
tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Salah
satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah
menggunakan
acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam
menentukan
kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik
mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
KKM
harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun
besarnya
jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah
keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus
pembelajaran.
Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk
menentukan
ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata
kurang
memuaskan. Setiap
satu materi pelajaran selesai, seorang guru akan mengadakan ulangan harian
untuk mengetahui seberapa jauh anak didiknya memahami materi tersebut. Jika nilai tidak
mencapai KKM yang telah ditentukan, maka
guru yang bersangkutan akan mengadakan remedial untuk memperbaiki nilai
tersebut. KKM harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar
(LHB) sebagai acuan dalam menyikapi hasil belajar peserta didik.
Untuk siswa yang
memang memahami materi pelajaran ditambah mengulangnya kembali akan mudah
mengerjakannya, dan sudah dipastikan nilainya akan melewati KKM. Tetapi, bagi
siswa yang kurang paham ditambah tidak mengulang pelajaran itu kembali akan
terasa sulit.
Demi mendapatkan nilai
bagus dan menghindari remedial, banyak siswa melakukan cara yang ilegal, salah satunya menyontek.
Menyontek merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi pelajar. Setelah saya survei, setidaknya sekali seumur hidup
orang menyontek, meskipun ia pintar. Bahkan bukan hanya saat
ulangan harian saja siswa menyontek, melainkan dalam latihan/tugas, PR, bahkan
ujian, Dan ini semakin merajalela dan bahkan sudah menjadi budaya. Maka dari
itu, saya tertarik menjadikan topik ini sebagai bahasan karya tulis yang saya
buat.
1.2
Rumusan Masalah
-Apa pengertian dari
menyontek?
-Apakah faktor yang
membuat siswa menyontek?
-Apa dampak jika siswa
menyontek?
-Bagaimana cara
mengatasi kebiasaan menyontek pada siswa?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan saya menyusun
karya ilmiah ini adalah agar para siswa yang suka menyontek sadar bahwa
menyontek adalah kegiatan yang tidak baik. Sehingga, kebiasaan menyontek siswa
menjadi berkurang.
1.4 Metode Penulisan
Saya melakukan
pengamatan dan sumber diambil dari internet.
BAB
2 : PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Menyontek
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Pustaka Pheonix,
2009), menyontek berasal dari kata ‘sontek’ yang berarti melanggar, menocoh,
menggocoh yang artinya mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana
aslinya, menjiplak. Menurut Webster’s
New Universal Unabridged Dictionary (Schmelkin,
2008) menyontek diartikan sebagai perilaku yang menipu yaitu dengan dengan
kecurangan.
Menurut Eric, dkk (Hartanto, 2012), menyontek berarti upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.
Taylor dan Carol (Hartanto, 2012) menyontek didefinisikan sebagai mengikuti ujian dengan melalui jalan yang tidak jujur, menjawab pertanyaan dengan cara yang tidak semestinya, melanggar aturan dalam ujian atau kesepakatan.
Menurut Ronney dan Steinbach (Barzegar dan Khezin, 2011) menyontek didefinisikan sebagai menggunakan cara apapun untuk mendapatkan sesuatu yang tidak adil, yang termasuk berbohong, menutupi kebenaran, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan.
Menurut Eric, dkk (Hartanto, 2012), menyontek berarti upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.
Taylor dan Carol (Hartanto, 2012) menyontek didefinisikan sebagai mengikuti ujian dengan melalui jalan yang tidak jujur, menjawab pertanyaan dengan cara yang tidak semestinya, melanggar aturan dalam ujian atau kesepakatan.
Menurut Ronney dan Steinbach (Barzegar dan Khezin, 2011) menyontek didefinisikan sebagai menggunakan cara apapun untuk mendapatkan sesuatu yang tidak adil, yang termasuk berbohong, menutupi kebenaran, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan.
Pengertian
lain menurut pendapat Wilkinson (Barzegar dan Khezin, 2011), menyontek
adalah menyalin dari siswa lain selama ujian, salah satu dari perbuatan yang
tidak baik yang menjadi salah satu dari masalah yang serius dalam institusi
pendidikan.
Berdasarkan
uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian perilaku menyontek adalah
kecurangan yang dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan cara yang
tidak halal seperti membuka catatan, bertanya kepada teman, ataupun melihat
langsung jawaban dari internet, dan perilaku lainnya yang tidak dibenarkan
untuk dilakukan karena tidak hanya merugikan bagi orang lain, tetapi juga
sangat merugikan dirinya sendiri sebagai pelaku sontek.
2.2
Faktor-faktor Yang Menyebabkan Siswa Menyontek
Menurut Brown dan Choong (2003), faktor-faktor perilaku menyontek ada
empat, yaitu:
1. Ingin
mendapatkan nilai dengan cara yang mudah
Faktor pertama dari perilaku
menyontek ini yaitu dimana siswa ingin mendapatkan nilai yang baik tanpa usaha
yang keras, sehingga melakukan perilaku ini, bahkan dianggap tidak merugikan
orang lain.
2. Lingkungan
Pendidikan
Pengaruh lingkungan di sekolah atau
institusi pendidikan lain karena tekanan teman sebaya, budaya sekolah, budaya
bersenang-senang, dan rendahnya resiko untuk ditangkap atau dihukum jika
melakukan perilaku menyontek.
3. Kesulitan
yang dihadapi
Kesulitan yang dihadapi siswa dalam
bentuk keterbatasan waktu yang mereka miliki untuk mengerjakan tugas dan pada
kesulitan yang ada pada materi pelajaran. Ini merupakan kesulitan yang
benar-benar dihadapi siswa.
4. Kurangnya
kualitas pendidik
Kualitas pendidik juga merupakan
faktor penyumbang terjadinya perilaku menyontek. Siswa melihat tugas, bahan
yang tidak relevan dan sikap guru yang acuh tak acuh, yang menjadi faktor
timbulnya perilaku menyontek.
2.3
Dampak Negatif Kebiasaan Menyontek bagi Siswa
1. Membuat siswa malas belajar
Kebiasaan
mencontek yang telah biasa dilakukan oleh siswa, akan membuat siswa yang
bersangkutan menjadi malas untuk belajar, bisa jadi mereka akan berpikir “buat
apa repot-repot belajar toh kita bisa mencontek saat ujian/ulangan”.
Munculnya
mindset yang seperti itu membuat motivasi siswa untuk belajar menjadi rendah,
sebaliknya motivasi untuk melakukan kecurangan saat ujian dengan jalan
mencontek bisa menjadi lebih tinggi.
Efek
dari kebiasaan malas belajar membuat generasi muda (siswa/pelajar) menjadi
tidak kompeten, alhasil pendidikan bisa jadi hanya melahirkan generasi yang
memiliki nilai tinggi tapi minim dengan kompetensi
2. Membuat siswa lebih menyukai
cara-cara instan
Efek
selanjutnya dari kebiasaan mencontek yang dilakukan oleh siswa yakni membuat
siswa malas untuk berusaha dan lebih memilih cara-cara instan, mereka bisa jadi
hanya berorintasi pada hasil tanpa memperdulikan proses.
Kebiasaan
mendapatkan sesuatu tanpa dilalui dengan kerja keras akan membuat karakter
siswa menjadi ambisius dan bisa berefek negatif pada sifatnya kelak.
3. Tidak adil pada siswa lain
Dampak
buruk lainnya dari kebiasaan mencontek adalah adanya ketidakadilan bagi siswa
lain, terutama siswa yang memang belajar guna menghadapu ujian. Dan tak jarang
nilai yang didapat oleh siswa yang mencontek lebih tinggi ketimbang nilai yang
didapat oleh siswa yang bersungguh-sungguh belajar.
Kondisi
yang demikian sangat memprihatinkan, hilangnya sikap jujur dan sportivitas akan
membuat siswa lain yang berlaku jujur akan sangat dirugikan.
4. Menjadi contoh buruk bagi
siswa lain
Kebiasaan
mencontek yang biasa dilakukan oleh siswa tertentu bisa memberi pengaruh
negatif bagi siswa lain, siswa lain bisa jadi akan ikut-ikutanmelakukan hal
yang sama (mencontek), perilaku mencontek yang dilakukan 1 atau dua kali
mungkin tidak berpengaruh besar pada siswa lain, namun jika kebiasaan tersebut
selalu dilakukan maka lama-kelamaan siswa yang lain akan menlakukan tindakan
yang serupa.
5. Cikal bakal lahirnya koruptor
Mencontek
adalah suatu perilaku mengambil sesuatu dengan cara yang tidak benar, mencontek
jika dilihat secara sepintas memang terlihat sebagai perbuatan yang tidak
terlalu buruk namun efek yang ditimbulkan sangat bahaya.
6. Mudah menyerah jika
mendapatkan kesulitan
Karena
telah terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cara mudah/instan, alhasil ketika
siswa-siswa yang biasa mencontek tersebut dihadapkan pada hal yang sulit dan
menantang, bisa jadi mereka akan mudah menyerah dan putus asa.
2.4
Cara Mengatasi Kebiasaan Menyontek pada Siswa
1. Menanamkan sikap jujur dalam
diri siswa
Solusi
jitu meminimalisir kebiasaan menyontek pada siswa adalah mengajarkan arti dari
nilai-nilai kejujuran, dengan memahami makna kejujuran siswa menjadi enggang
untuk menyontek. guru bisa memberi nasihat kepada siswanya bahwasanya lebih
baik mendapat nilai rendah dari pada harus mencontek karena mencontek adalah
perbuatan yang tidak terpuji dan sama dengan mencuri.
2. Memuji hasil usaha terbaik
siswa meskipun belum memenuhi standar
Setiap
upaya dan hasil yang diperoleh siswa sebaiknya diapresiasi meskipun masih
kurang hal ini untuk menghindarkan perasaan rendah diri siswa dan menimbulkan
rasa percaya diri siswa. dengan mengapresiasi hasil usaha siswa, akan memberi
dorongan bagi siswa untuk belajar lebih giat lagi.
3. Menjelaskan dampak buruk jika
suka mencontek
Seorang
guru harus memberi pemahaman dan nasihat kepada muridnya tentang dampak buruk
jika suka mencontek, dengan mengetahui dampak buruk jika suka mencontek, siswa
akan berpikir dua kali untuk mencontek.
4. Menanamkan pada diri siswa
bahwa menyontek tidak menyelesaikan masalah
Sebagian
siswa hanya berpikir bagaimana cara menyelesaikan tugasnya tanpa memperdulikan
cara yang dilakukan sudah benar atau salah. untuk itu guru sebaiknya
menjelaskan bahwa kalau menyontek tidak menyelesaikan masalah justru semakin
memicu munculnya masalah lain.
5. Rajin belajar dan giat latihan
menjawab soal pelajaran
Belajar
yang lebih giat lagi dan memperbanyak menjawab soal-soal pelajaran sehingga
kemampuan intelektual siswa semakin bertambah dengan itu akan sedikit
mengurangi frekuensi mencontek seorang siswa.
6. Memberi pelajaran bermakna
Cara
guru dalam mendidik dan mengajar siswa merupakan kunci utama aspek sikap,
keterampilan dan intelektual siswa. sebaiknya dalam setiap pembelajaran ditanamkan
nilai-nilai positif dan guru harus menjadi teladan bagi muridnya. mengajar
dengan maksimal dan sepenuh hati agar siswa bisa dengan mudah memahami suatu
pelajaran.
BAB
3 : PENELITIAN
3.1Tempat
dan Waktu
SMP Negeri 1 Bagan Sinembah. Pada
Kamis 08 Maret 2018 pukul 7:30-9:30 WIB (Ujian Tryout hari ke-4).
3.2Populasi
dan Sampel
Populasinya adalah Siswa kelas 9
SMP Negeri 1. Dan sampelnya siswa kelas IX-9.
3.3Perbandingan
Siswa yang Menyontek dan Tidak Menyontek di Kelas IX-9
Berdasarkan pengamatan yang saya
lakukan, terdapat data-data seperti berikut.
|
No.
|
Waktu
|
Kegiatan yang
siswa lakukan ketika ujian berlangsung
|
|
1.
|
07:30-08:00
|
Siswa masih tertib dan fokus
mengerjakan soal masing-masing.
|
|
2.
|
08:00-08:30
|
Siswa mulai ricuh bertanya dengan
sekitarnya dan ada siswa yang sedang melirik jawaban teman disebelahnya.
|
|
3.
|
08:30-09:00
|
Sebagian siswa ribut mengobrol dengan
teman didekatnya karena telah selesai menyelesaikan soalnya.
|
|
4.
|
09:00-09:30
|
Siswa kembali mengecek jawaban dan
kembali bertanya dengan teman sekitarnya. Jika ada jawaban yang keliru, siswa
akan berdiskusi dengan teman sekitarnya sebelum dikumpulkan ke guru pengawas.
|
Dan berdasarkan pengamatan yang
saya lakukan di hari yang sama, kira-kira hanya 1 dari 10 siswa atau sekitar
0,1% siswa yang mengerjakan soal tanpa bertanya maupun melirik ke temannya. Ini
berarti kesadaran siswa belum juga ada tentang kebiasaan menyontek ini.
BAB
4 : PENUTUP
4.1Kesimpulan
Setelah
melihat data yang ada pada Bab 3 tadi dapat disimpulkan bahwa para siswa belum
juga sadar akan tidak baiknya menyontek. Dan hanya 0,1% siswa yang mengerjakan
ujian secara mandiri tanpa bertanya ataupun melirik jawaban teman sekitarnya.
4.2Saran
Sebaiknya
sebagai pelajar kita mengerjakan ulangan harian maupun ujian secara mandiri.
Itu akan melatih mental di kemudian hari. Kita jadi tidak terlalu bergantung
terhadap orang lain, menjadi lebih percaya diri dengan keputusan yang sudah
kita buat dan tentunya melatih kita supaya terus bekerja keras.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.kajianpustaka.com/2013/03/teori-menyontek.html
http://etheses.uin-malang.ac.id/618/6/10410172%20Bab%202.pdf
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
https://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum
https://ivonyerniwaty.wordpress.com/2011/06/12/pengertian-dan-fungsi-kriteria-ketuntasan-minimal-kkm/
http://www.rijal09.com/2017/11/6-dampak-negatif-kebiasaan-mencontek-pada-siswa.html
http://www.rijal09.com/2016/12/6-cara-mengatasi-kebiasaan-mencontek-pada-siswa.html


Komentar
Posting Komentar